Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia
—
Pakar memprediksi
El Nino
tahun ini bakal menjadi yang terkuat dalam 150 tahun. Bahkan, berbagai model prakiraan menunjukkan
fenomena
kali ini dapat memecahkan seluruh rekor yang pernah tercatat sebelumnya.
Zeke Hausfather, ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, menjelaskan bahwa proyeksi terbaru mengindikasikan bahwa puncak El Nino kali ini bakal melampaui rekor tertinggi sebelumnya.
Ia menganalisis hasil simulasi dari 14 model prakiraan musiman yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa puncak suhu permukaan laut di Samudra Pasifik berisiko melonjak hingga sekitar 3,6°C di atas rata-rata, dan angka itu 0,8°C lebih tinggi dibanding rekor Super El Nino sebelumnya pada periode 2015-2016.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sebagai gambaran, selisih suhu antara El Nino terkuat dan terkuat kelima dalam 150 tahun terakhir hanya sekitar 0,5°C,” kata Hausfather, melansir
Gizmodo
, Senin (27/7).
“Model-model saat ini sedang memprediksikan sesuatu yang sama sekali di luar jangkauan apa pun yang pernah kita amati sebelumnya,” lanjut dia.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), lembaga pemantauan cuaca dan iklim Amerika Serikat, secara resmi menyatakan mulainya fase El Nino pada bulan Juni. Seiring menguatnya El Nino, lautan akan menyalurkan makin banyak panas ke atmosfer dengan puncak suhu permukaan laut diperkirakan terjadi antara bulan November hingga Februari.
Lantaran momen puncak terjadi jelang akhir tahun, dampak kenaikan suhu global paling signifikan biasanya baru akan terasa pada tahun berikutnya.
Hausfather menyebut bahwa kombinasi antara El Nino kali ini dan krisis iklim yang sedang terjadi berpotensi mendorong kenaikan rata-rata suhu global ke angka 1,7°C di atas rata-rata era pra-industri pada tahun 2027.
Lonjakan ini akan melampaui ambang batas 1,5°C yang disepakati dalam Paris Agreement. Terakhir kali batas tersebut terlewati adalah pada tahun 2024, yang juga mencatat rekor sebagai tahun terpanas dalam sejarah.
Menurut dia, tahun 2026 juga memiliki peluang sekitar 28 persen untuk menggeser tahun 2024 sebagai tahun terpanas, sebelum nantinya berpotensi terlampaui lagi oleh tahun 2027.
Dari dalam negeri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga memprediksi El Nino tahun ini bakal lebih kuat dibanding fenomena yang terjadi pada tahun 2023.
Profesor riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan bahwa sejumlah pakar iklim memprediksi bahwa pemanasan suhu akibat El Nino bisa mencapai lebih dari 2 derajat.
“Kalau kita bicara dampak untuk kasus El Nino 2023 yang suhu maksimum intensitasnya hanya 1,6 (derajat Celsius), sekarang kedudukannya, posisinya El Nino saat ini dalam pantauan satelit itu sudah 1,74 (derajat Celsius),” kata Erma dalam wawancara dengan
Hit Club APK3 Indonesia TV
, Minggu (26/7).
“Itu sudah melampaui ambang batas El Nino 2023, dan ini belum stop di sini, ini masih merangkak naik begitu dan diprediksi Agustus akan mencapai threshold atau ambang batas di atas 2 (derajat Celsius). Jika El Nino mencapai 2 atau lebih dari 2, maka itu disebut dengan super,” lanjut dia.
Kategori El Nino super baru terjadi dua kali sepanjang sejarah, yakni pada tahun 1997 dan 2015. Namun, fenomena El Nino tahun ini diprediksi bakal lebih kuat dari dua peristiwa sebelumnya.
Jika dibanding peristiwa tahun 2023, dampak El Nino kali ini diperkirakan bakal lebih parah. Pasalnya, intensitas El Nino tahun ini sudah melampaui tahun 2023, dengan kondisi masih bisa lebih panas lagi ke depannya.
“Sudah harus dipahami bahwa El Nino saat ini yang 2026 dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan El Nino 2023, karena intensitasnya saja sekarang sudah lebih tinggi daripada intensitas maksimum El Nino 2023,” ujar dia.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Saudi Kembali Bersitegang dengan Irak Buntut Serangan Drone di Riyadh
Baca lagi: Aceh Masuk Fase Rekonstruksi Bencana, Rp58,9 Triliun Digelontorkan
Baca lagi: Apa Itu Kuota Internet Rollover yang Diminta MK ke Operator Seluler?

