Hit Club APK3

Zuckerberg Bela AI dari Isu Kiamat Lapangan Kerja: Tak Perlu Takut

Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia

CEO Meta

Mark Zuckerberg

secara tegas membela pengembangan

kecerdasan buatan

(AI) di tengah semakin ketatnya pengawasan dan tuntutan regulasi terhadap perkembangan teknologi ini.

Hal tersebut ia sampaikan dalam sebuah esai panjang lebih dari 6.500 kata. Esai ini dirilis bersamaan dengan pengumuman model open source terbaru Meta, Muse Glimmer.

Dalam esai tersebut, Zuckerberg menegaskan bahwa teknologi ini tak perlu ditakuti, sekaligus menepis kekhwatiran bahwa superintelijen akan merebut pekerjaan manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Gagasan bahwa AI begitu berbahaya sehingga satu-satunya jalur aman adalah pemusatan kekuasaan secara ekstrem, menurut saya pada dasarnya bermasalah,” tulis Zuckerberg, melansir

Politico

, Senin (10/8).

Visi Zuckerberg ini bertolak belakang dengan pandangan CEO Anthropic, Dario Amodei, yang sebelumnya memperingatkan potensi gangguan AI terhadap pasar kerja. Saat ini Meta masih tertinggal dari Anthropic dan OpenAI, dua perusahaan yang memiliki model AI tercanggih saat ini.

Meski esai Zuckerberg tidak menyebut nama Amodei atau OpenAI secara gamblang, ia menyerukan agar AI supercerdas didistribusikan secara luas demi membuka peluang ekonomi. Menurut dia, langkah ini dapat menjadi jaring pengaman agar kekuasaan tidak menumpuk hanya di tangan segelintir pemerintah, perusahaan, atau lembaga tertentu.

Kendati begitu, ia menekankan bahwa Amerika Serikat harus mengatasi berbagai pembatasan terhadap perusahaan AI dalam negeri agar mampu menciptakan model terbaik di dunia.

“Penting juga bagi AS dan sekutunya untuk memimpin ekosistem AI open source yang bakal mendominasi sebagian besar penggunaan AI global,” tulis dia.

“Laboratorium luar negeri saat ini memiliki beberapa keunggulan karena laboratorium di Amerika harus mematuhi berbagai pembatasan tambahan terkait data pelatihan,” lanjutnya.

Desak kerja sama

Zuckerberg juga mendesak pemerintah federal untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan teknologi dalam menguji model baru, sembari memaparkan strateginya untuk melindungi dari ancaman kejahatan siber dan bioterorisme.

“Pertama, kita harus berfokus pada pembatasan produksi dan distribusi fisik bahan-bahan berbahaya. Saya memperkirakan mengatur dan mengendalikan komponen fisik akan jauh lebih mudah daripada membendung penyebaran pengetahuan, jadi ini merupakan fokus kebijakan yang penting,” tulisnya.

“Kedua, kita harus mempercepat kemampuan masyarakat untuk menemukan penawar baru dan memproteksi diri dari ancaman baru yang bermunculan. Ini mencakup penyederhanaan proses pengujian dan persetujuan penanganan baru oleh FDA dan lembaga regulator lainnya,” lanjut dia.

Zuckerberg juga membela ekspansi pusat data, dengan berargumen bahwa fasilitas tersebut merupakan bentuk investasi nyata bagi masyarakat lokal. Ia turut memamerkan target Meta untuk menjadi ”

water-positive

“, yang berarti perusahaan akan mengembalikan lebih banyak air daripada yang digunakannya di wilayah operasional mereka pada tahun 2030.

(dmi)

[Gambas:Video Hit Club APK3]

Baca lagi: OJK Buka Suara soal Dana Amal Istiqlal Masuk Pasar Modal

Baca lagi: Pendaftaran Lampung Financial Festival 2026 Dibuka 18 Agustus

Baca lagi: Evakuasi Longsor Imbas Hujan Deras di Baguio Filipina, 10 Orang Tewas

Exit mobile version