
Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia
—
Sebuah
studi
terbaru dari tim peneliti internasional memperingatkan bahwa jumlah
populasi manusia
saat ini telah melewati batas kapasitas daya tampung Bumi yang berkelanjutan.
Studi yang dipublikasikan di jurnal
Environmental Research Letters
ini menyatakan bahwa populasi global saat ini yang mencapai 8,3 miliar jiwa tidak akan dapat bertahan dalam jangka panjang tanpa menghabiskan ekosistem, memperburuk perubahan iklim, serta mengancam ketahanan pangan dan air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Bumi tidak dapat mengikuti cara kita menggunakan sumber daya. Bumi tidak dapat mendukung permintaan saat ini tanpa perubahan besar,” ujar pemimpin penelitian sekaligus Profesor Ekologi Global dari Flinders University, Corey Bradshaw, melansir
Science Daily
, Sabtu (30/5).
Bradshaw menjelaskan bahwa perhitungan tim peneliti menunjukkan jumlah populasi global yang benar-benar berkelanjutan sebenarnya hanya berkisar di angka 2,5 miliar orang. Angka tersebut dengan syarat setiap individu hidup dalam batas ekologis dan memiliki standar hidup yang aman secara ekonomi.
Dalam riset ini, tim internasional yang melibatkan mendiang Profesor Paul Ehrlich dari Stanford University menganalisis data populasi dan lingkungan selama lebih dari 200 tahun. Mereka menemukan bahwa pola pertumbuhan berubah pada awal 1960-an, ketika laju pertumbuhan mulai melambat meskipun total populasi terus meningkat.
Penelitian tersebut memproyeksikan populasi global kemungkinan akan mencapai puncaknya di angka 11,7 hingga 12,4 miliar orang pada akhir tahun 2060-an atau 2070-an jika tren saat ini terus berlanjut.
Menurut para peneliti, tingkat populasi yang tinggi saat ini bisa terjadi karena masyarakat bergantung pada bahan bakar fosil dan mengonsumsi sumber daya alam lebih cepat daripada kemampuan Bumi untuk memulihkannya.
Ketergantungan ini dinilai menyembunyikan efek kelebihan ekologis secara sementara melalui penyediaan pangan dan pertumbuhan industri, namun di sisi lain memperparah emisi karbon serta kerusakan lingkungan.
Risiko-risiko yang dikaitkan dengan situasi ini meliputi memburuknya dampak iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan keamanan pangan dan air, serta meningkatnya ketimpangan.
Kendati demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi ini tidak memprediksi runtuhnya peradaban secara tiba-tiba, melainkan sebuah penilaian realistis mengenai tekanan yang sedang terjadi.
Riset ini didukung oleh The Kids Research Institute Australia dan lembaga Population Matters. Tim penulis yang terlibat di antaranya berasal dari Flinders University, University of Western Australia, University of California, Stanford University, dan University of Cambridge.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Hit Club APK3]
Baca lagi: PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tidak Mewakil Wajah Pesantren
Baca lagi: Cara Membuat SIM Digital, SIM Fisik Boleh Ditinggal di Rumah
Baca lagi: Profesi Pendamping Naik Gunung, Naik Daun di Kalangan Gen Z China



