Schneider Electric Bongkar Peran AI di Smart Factory Batam

Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia

Schneider Electric

membongkar rahasia bagaimana teknologi

kecerdasan buatan

(AI) dapat membantu pabrik mereka yang berada di Batam bertransformasi jadi

smart factory

.

Schneider Electric Manufacturing Batam (SEMB) merupakan salah satu pabrik terpenting perusahaan teknologi tersebut di Indonesia. Saat ini, SEMB telah beroperasi selama lebih dari 32 tahun dan menjadi salah satu fasilitas manufaktur utama dalam jaringan global Schneider Electric.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pabrik ini ditunjuk sebagai Indonesia National Lighthouse Industry 4.0 pertama oleh Kementerian Perindustrian, yang menandakan bahwa implementasi transformasi industrinya dinilai nyata, terukur, dan dapat menjadi referensi bagi manufaktur lain di Indonesia.

Kodrat Sutahardiyanto, Batam Cluster Plant Director SEMB, mengatakan bahwa proses transformasi menuju

smart factory

pertama kali dimulai pada 2017. Hal ini merupakan bagian dari program

smart factory

global Schneider Electric, dengan fokus pada digitalisasi

end-to-end

di seluruh proses operasional.

Ia menjelaskan sebelum transformasi tersebut, proses pekerjaan masih dilakukan secara konvensional.

“Cuman

at certain point

kita sadar kalau kita

continue

kayak gini, ini enggak akan lihat

opportunity

nih. Itulah kenapa tahun 2017, transformasi yang kita lakukan pertama adalah kita bikin

connected product

, ya

connected equipment

kita ke sistem,” kata Kodrat saat ditemui di SEMB, Batam, Selasa (24/2).

Fasilitas ini memanfaatkan EcoStruxure, platform digital berbasis IoT milik Schneider Electric, yang menghubungkan perangkat, sistem kontrol, data, analitik, dan manusia dalam satu arsitektur terintegrasi untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data secara

real-time

.

“Dari situ kita bisa

real-time

melihat informasi dari mesin kita, dari

consumption energy

kita. Sebelum ada

saving

kan, karena kita cuman informasi dikeluarkan. Tapi buat kita, kita jadi tahu ada

weakness

di area mana nih, baru dibikin

action

,” jelas dia.

Salah satu bentuk transformasi

smart factory

ini adalah dengan penggunaan teknologi AI. Namun demikian, Kodrat menekankan bahwa penggunaan AI dalam SEMB bukan asal keren-kerenan semata.

Menurutnya, penggunaan teknologi AI di pabrik harus berangkat dari kebutuhan operasional. Tidak hanya itu, teknologi akal imitasi ini harus bisa menjadi solusi atas masalah yang terjadi di pabrik.

“AI yang kita pakai itu, yang kita

implement

itu adalah menjawab tantangan kebutuhan operasional. Begitu kita tahu kita ada projek nih

improvement

, kita tahu oh ini

improvement

-nya adalah ini kita bisa

automate

nih, datanya enggak ada, kita bikin nih supaya bisa mengeluarkan data,” ujar Kodrat.

“Nah itulah kita lakukan proyek yang tadi

smart solution

tadi, AI,

machine learning

dan sebagainya. Jadi kalau karena itu dasarnya kebutuhan, begitu kita

deploy

, dipakai,” kata dia menambahkan.

Memprediksi kerusakan

Kodrat menjelaskan salah satu manfaat penggunaan teknologi AI adalah pihaknya kini dapat memprediksi jika salah satu alat di pabrik akan mengalami kerusakan. Menurutnya data-data yang dikumpulkan dan dianalisis oleh AI mampu menurunkan

downtime

di pabrik.

Ia mencontohkan, saat sebelum penggunaan AI, kerusakan mesin dalam pabrik tak bisa diprediksi dan perbaikannya memakan waktu lama. Sementara, kombinasi penggunaan teknologi AI yang didukung analisis data, membuat mereka bisa memprediksi kapan mesin tersebut kemungkinan rusak.

“Mesin ini kan kalau dulu karena tidak ada umpan balik, kalau ada isu,

breakdown

dia bisa terjadi, reaktif sifatnya kan?

Breakdown

dulu baru kita

fix

itu. Sekarang dengan AI ini, informasi itu di-

publish

, data-data dari mesin itu dikeluarkan, misalkan

number of stroke

sebuah piston gitu, itu bisa kita pasangin sensor nanti dia akan

ngirim

sinyal,” jelas Kodrat.

“Dari situ saya bisa memprediksi nih dengan model AI tadi, ini setelah 1 juta

stroke

nantinya dia akan mulai fatigue. Jadi buat saya, sebelum 1 juta, begitu

pattern

-nya sudah ada saya sudah stop mesinnya. Jadi bukan reaktif tadi tapi jadi

preventive maintenance

. Itu contohnya untuk di

maintenance

,” lanjutnya.

Menurutnya, dengan bertransformasi dari

reactive maintenance

menuju

predictive maintenance

, jika ada kerusakan pabrik tetap bisa berjalan dengan baik tanpa harus mengganggu jalannya produksi.

“Jadi saya enggak

breakdown

yang bisa sejam, dua jam atau berhari-hari karena mesinnya sudah rusak, di sini saya bisa lakukan

planning

itu, lagi enggak produksi saya stop, saya perbaiki, ganti kalau perlu ganti, jadi tidak mengganggu produksi. Jadi sifatnya dari

reactive

maintenance

berubah menjadi

predictive

maintenance,” tutur Kodrat.

Tak akan gantikan manusia

Sejumlah pihak sempat khawatir bahwa penggunaan teknologi AI besar-besaran dapat menggantikan peran manusia dalam pekerjaan sehari-hari.

Namun, Schneider Electric memastikan bahwa teknologi AI yang mereka terapkan tidak akan menggantikan peran manusia.

“Jadi pergeserannya itu bukan AI menggantikan orang, orang itu akan digantikan orang lain yang mengerti AI. Nah itu kata kuncinya. Jadi bukan orang

digantiin

AI, orang

digantiin

orang yang ngerti AI. Nah itu yang

challenge

-nya. Bagaimana

continue

bikin orang punya AI

savvy

,

skills

-nya,” kata Kodrat.

Mustain Mahrus, HR Lead Batam & LAC (Korea, Taiwan, dan Jepang) Schneider Electric, mengatakan bahwa justru kemajuan teknologi seharusnya mendorong karyawan untuk berkembang lebih jauh.

“Walaupun kita punya teknologi bagus tapi kalau

people

-nya enggak

ready

, ya mustahil untuk itu. Kan ya sekarang evolusi digital AI kan cepat kan, yang menentukan apa orangnya bisa

catch-up

enggak,” tuturnya.

(dmi/dmi)

[Gambas:Video Hit Club APK3]

Baca lagi: Ibu Terdakwa Kasus Pembunuhan Pacar di NTB Menangis Saat Lapor DPR

Baca lagi: Umat Muslim & Masjid di AS-Eropa jadi Target Serangan saat Ramadan

Baca lagi: Pengamat Malaysia: Sidang CAS Bakal Jadi Bom Atom untuk FAM dan FIFA

Kamu mungkin juga menyukai: