
Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia
—
Schneider Electric mendorong pendekatan
predictive maintenance
berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu industri data center menjaga sistem tetap beroperasi tanpa gangguan.
Lewat pemantauan berbasis kondisi dan analisis data real-time, perusahaan berupaya menekan potensi
downtime
yang dapat berdampak besar pada operasional dan reputasi pengelola pusat data.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Business Vice President Services & Sustainability Schneider Electric Indonesia Geraldi Tjhin mengatakan industri data center memiliki standar keandalan yang sangat ketat, terutama dalam menjaga sistem kelistrikan.
“Mereka harus menjaga kalau sistem kelistrikan itu benar-benar solid, ada berbagai macam backup sehingga tidak ada
downtime
. Untuk informasi, di data center itu
downtime
yang tidak boleh terjadi itu sekitar 99,93 persen. Jadi cuma 0 sekian persen saja boleh
downtime
. Jadi satu tahun itu [hanya] boleh
downtime
sekitar satu jam lebih,” ujar Geraldi saat ditemui di Schneider Electric Service Hub Batam, Rabu (25/2).
Menurutnya, batas toleransi tersebut berkaitan erat dengan perjanjian layanan atau service level agreement (SLA) antara pengelola data center dan para tenant.
“Sekali ada
down
reputasi sudah buruk, mereka akan cari data center lain. Karena yang mereka jual itu kepercayaan. Banyak aplikasi seperti mobile banking dan lainnya, kalau data center
down
semua aplikasi ikut berhenti,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, pendekatan pemeliharaan konvensional dinilai tidak lagi memadai. Geraldi menjelaskan, praktik lama yang dikenal sebagai
corrective maintenance
mengandalkan perbaikan setelah kerusakan terjadi.
“Dulu familiar dengan
corrective maintenance
. Sudah rusak baru datang diperbaiki. Untuk industri kritikal seperti data center itu tidak berlaku,” ujarnya.
Model tersebut kemudian berkembang menjadi preventive maintenance berbasis jadwal tetap. Namun, menurutnya, pendekatan berbasis kalender juga memiliki keterbatasan.
“Setahun datang empat kali, kalau tidak rusak ya syukur, kalau rusak kebetulan kita datang baru diperbaiki. Sekarang kami beralih ke
predictive maintenance
dengan
condition-based maintenance activity
. Jadi kita harus bisa prediksi sebelum isu itu terjadi,” kata Geraldi.
Ia menambahkan, pendekatan berbasis kondisi ini juga berkaitan dengan efisiensi dan keberlanjutan operasional.
“Kenapa harus datang
fixed
setahun empat kali kalau tidak terjadi apa-apa? Kalau parameter yang dimonitor baik-baik saja,
then why not
,” ujarnya.
Untuk mendukung pendekatan tersebut, Schneider Electric menghadirkan layanan EcoCare yang memanfaatkan pemantauan digital dan AI. Melalui sistem ini, parameter kritikal peralatan dipantau secara langsung dan datanya diunggah ke cloud untuk dianalisis.
“Kita punya layanan namanya EcoCare, di mana produk tersebut kita tahu
criticality
-nya, kita monitor dan datanya dinaikkan ke AI cloud sehingga kami tahu dari segi trending line itu akan menuju ke mana,” kata Geraldi.
Menurutnya, AI membantu menghadirkan sistem peringatan dini atau
early warning system
. Data yang telah diolah di cloud tersebut juga dipantau tim ahli secara berkelanjutan.
“Dengan membership digital ini, ada tim expert yang memonitor 24/7. Jadi bukan hanya call center. Ketika sebelum terjadi isu dan mereka melihat ada anomali, customer akan dikontak dan diberikan konsultasi. Jadi tahu action plan-nya harus apa,” kata Geraldi.
(dmi/dmi)
[Gambas:Video Hit Club APK3]
Baca lagi: Head to Head Madrid vs Man City: Los Blancos Lebih Unggul
Baca lagi: Jokowi Respons Gugatan di MK soal Kerabat Presiden-Wapres Maju Pilpres
Baca lagi: KPK Duga Korupsi di Bea Cukai Berjenjang Terkait Pegawai Budiman Bayu