
Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia
—
China
resmi mengoperasikan pusat data (
data center
) bawah air bertenaga angin pertama di dunia yang berlokasi di lepas pantai Shanghai. Fasilitas berkapasitas 24 megawatt (MW) ini pertama diluncurkan pada Mei 2026.
Proyek
data center
The Shanghai Lingang ini merupakan hasil kolaborasi antara perusahaan HiCloud Technology dan perusahaan milik negara China Communication Construction.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek ini menelan nilai investasi hingga 1,6 miliar yuan. Pembangunan infrastruktur hijau ini sejalan dengan rencana aksi AI China yang dirilis tahun lalu untuk mempercepat konstruksi pusat data, sekaligus komitmen meningkatkan pasokan energi bersih untuk infrastruktur AI secara signifikan pada 2030.
Fasilitas yang berlokasi lebih dari 10 kilometer dari garis pantai Shanghai ini dibangun di kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut. Menurut pemerintah China, jika dibandingkan dengan
data center
konvensional di darat, fasilitas bawah air ini mampu mengurangi konsumsi daya hingga lebih dari seperlima.
Penyusutan konsumsi daya ini terjadi karena sistem pendingin memanfaatkan efek alami air laut secara langsung. Pada
data center
konvensional, sekitar 25 hingga 40 persen total kebutuhan listrik habis hanya untuk mengalirkan air dingin demi mencegah server mengalami overheating.
Selain menghemat listrik, penempatan di bawah laut juga memangkas penggunaan air tawar secara drastis. Selama ini, salah satu masalah data center konvensional yang jadi tulang punggung teknologi kecerdasan buatan adalah penggunaan banyak air untuk mendinginkan.
Merujuk laporan Institute for Water, Environment and Health dari Universitas PBB (UNU),
water footprint data center
global diproyeksi mencapai 9,3 triliun liter pada 2030. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan air domestik tahunan bagi 1,3 miliar penduduk di kawasan sub-Sahara Afrika.
Sistem operasional pusat data di Lingang ini sepenuhnya disokong oleh angin lepas pantai. Langkah ini menjadi pembeda dari proyek komersial bawah air pertama HiCloud di Pulau Hainan pada 2023 yang belum terintegrasi dengan tenaga angin.
China bukan negara pertama yang bereksperimen membuat
data center
di bawah air. Microsoft lebih dulu meluncurkan pilot project serupa di perairan Orkney, Skotlandia, pada tahun 2018. Meski cukup menjanjikan, proyek Microsoft tersebut kini mandek.
“Microsoft lebih awal dalam membuktikan konsepnya, sementara China melangkah lebih jauh ke penyebaran komersial karena mampu menyatukan permintaan pasar, kemampuan industri, teknik kelautan, dan dukungan kebijakan dengan lebih cepat,” kata Hanjiang Dong, dosen Hong Kong Polytechnic University, melansir
The Guardian
, Rabu (10/6).
Di sisi lain, keberadaan
data center
di bawah air tetap membawa risiko lingkungan, seperti potensi gangguan pada sedimen laut dan peningkatan suhu air di sekitar fasilitas. Kendati begitu, para pakar menilai dampak tersebut masih dalam batas aman dan dapat dikelola.
(dmi/dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Hit Club APK3]
Baca lagi: Majelis Hakim: Andrie Yunus Merendahkan Wibawa Pengadilan Militer
Baca lagi: Memori ’98 dan Imajinasi Andre Syahreza dalam Semesta Nekra
Baca lagi: Rupiah Lesu, DEN Minta Prabowo Perbanyak Devisa dari TKI dan Turis



