
Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia
—
Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon dilaporkan menggunakan model kecerdasan buatan (AI)
Grok
buatan xAI, perusahaan milik
Elon Musk
, untuk meluncurkan ribuan misil ke Iran.
Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kepala Digital dan Kecerdasan Buatan Pentagon, Cameron Stanley. Dalam dokumen persidangan, Stanley mengungkap bahwa sistem AI tersebut sudah digunakan militer AS untuk mengidentifikasi target dan menembak lebih dari 2.000 target berbeda di Iran dalam kurun waktu 96 jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sumpah tertulis di persidangan, Stanley menegaskan bahwa operasional sistem AI milik Musk itu merupakan “masalah keamanan yang sangat penting”. Pengakuan eksplisit dari pejabat pemerintahan AS ini menjadi sorotan tajam, terlebih setelah serangan tersebut dilaporkan memicu jatuhnya ratusan korban sipil di Iran.
“Chatbot tersebut merupakan salah satu dari tiga produk yang dilengkapi untuk mendukung operasi krusial dalam lingkungan rahasia tingkat tinggi,” tulis Stanley dalam dokumen tersebut, melansir
The Independent
, Selasa (16/6).
Masuk kategori top secret
Dokumen tersebut menjadi pengakuan eksplisit pertama dari pejabat AS bahwa pemerintah menggunakan kecerdasan buatan milik Musk untuk melancarkan serangan bom ke Iran. Hal ini menjadi sorotan tajam, karena beberapa model AI juga dilaporkan terlibat dalam serangan AS ke Iran yang menewaskan ratusan warga sipil, termasuk anak-anak.
Dalam dokumen pengadilan itu, Grok disebut sebagai satu dari empat model AI yang saat ini mampu mendukung aplikasi keamanan nasional AS. Selain itu, Grok merupakan satu dari tiga produk AI yang dilengkapi untuk mendukung operasi misi kritis yang sangat rahasia.
Secara spesifik, pihak militer mengandalkan “Grok Gov Model”, sebuah rangkaian produk yang dirancang khusus untuk bekerja dengan lembaga federal. Pentagon menyatakan pihaknya akan terdampak “sangat parah” oleh keputusan pengadilan jika xAI dilarang untuk diterapkan, disempurnakan, dan ditingkatkan di seluruh lini militer.
Dalam operasinya, target serangan diidentifikasi dengan bantuan Maven Smart System milik Badan Intelijen Geospasial Nasional (NGA). Sistem Maven menggunakan AI untuk memetakan data pada dasbor guna mendukung pengambilan keputusan pejabat militer.
Pihak Pentagon menjelaskan bahwa produk AI tersebut tidak membuat target secara eksplisit, melainkan bekerja di dalam sistem Maven untuk mengidentifikasi titik-titik potensial bagi intelijen militer.
Kritik keras
Penggunaan AI oleh militer AS beriringan dengan kritik keras setelah serangan yang dipimpin AS dilaporkan menewaskan ratusan warga sipil, termasuk anak-anak.
Penyidik militer AS meyakini bahwa pasukan Amerika kemungkinan bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah sekolah anak perempuan di Minab, Iran, yang menewaskan sedikitnya 175 orang, sebagian besar anak-anak.
Para analis dan pegiat HAM menilai insiden itu sebagai peristiwa dengan korban sipil paling mematikan sejak pasukan AS dan Israel memulai serangan ke negara itu pada Februari lalu.
Sejumlah analis luar menilai bahwa penargetan berbasis AI oleh Pentagon, ditambah faktor human error yang gagal memeriksa pembaruan peta target, turut berperan dalam pemboman tersebut.
Di sisi lain, dokumen tersebut juga mengungkap konflik hukum antara Pentagon dengan perusahaan AI lainnya, Anthropic. Kerja sama keduanya gagal setelah Anthropic mendapati bahwa pemerintah AS tidak memberikan jaminan untuk tidak menggunakan Claude, model AI milik mereka, untuk pengawasan domestik atau drone otonom.
Akibat kegagalan kesepakatan itu, Pentagon menetapkan Anthropic sebagai “risiko rantai pasokan terhadap keamanan nasional” yang dapat mengancam kontrak masa depan perusahaan dengan pemerintah.
Usul pembuatan regulasi AI di halaman berikutnya…
Merespons hal ini, sejumlah politikus Demokrat di Kongres AS mulai mengajukan rancangan undang-undang untuk membatasi penggunaan AI oleh militer. Langkah ini diambil setelah pejabat tinggi Pentagon menolak menyelidiki kematian warga sipil yang sebenarnya bisa dicegah jika ada kendali AI yang lebih ketat.
Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Senator Kirsten Gillibrand memastikan bahwa komandan manusia harus tetap memegang kendali penuh atas keputusan hidup dan mati. Aturan ini juga akan melarang total penggunaan AI dalam urusan senjata nuklir, pengawasan domestik, serta sistem senjata otonom.
“Keputusan paling kritis yang memengaruhi keamanan nasional kita dan nyawa anggota layanan kita harus selalu dibuat oleh manusia, bukan mesin yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban,” kata Gillibrand dalam sebuah pernyataan awal bulan ini.
Menurutnya, Pentagon saat ini bergerak mengerahkan teknologi AI yang sangat kuat tanpa adanya batasan yang masuk akal. Hal itu dinilai bisa membawa konsekuensi katastrofe yang membuat situasi menjadi tidak aman.
“Kita harus bertindak sekarang, bukan untuk mematikan kemajuan teknologi, tetapi untuk menetapkan aturan main yang jelas yang menjaga manusia tetap memegang kendali dan memastikan penggunaan AI dalam peperangan tetap cerdas dan aman,” tegasnya.
Bocor karena gugatan lingkungan
Informasi rahasia mengenai serangan ke Iran ini terungkap setelah Departemen Keadilan (DoJ) AS menyerahkan dokumen sumpah tertulis Stanley ke Pengadilan Federal Mississippi.
Langkah ini diambil Pentagon untuk membela xAI yang sedang menghadapi gugatan hukum dari organisasi pembela hak sipil, NAACP.
NAACP menggugat xAI atas dugaan pencemaran lingkungan ilegal di komunitas warga kulit hitam. Perusahaan milik Elon Musk itu dituduh mengoperasikan sedikitnya 57 turbin gas tanpa izin demi memasok daya di pusat data Colossus 2 milik mereka.
Pentagon membela xAI dengan menyatakan bahwa pusat data tersebut diposisikan untuk menyediakan lonjakan kapasitas energi kritis jika terjadi konflik bersenjata atau situasi mendesak lain yang berdampak pada keamanan nasional.
Data center yang mendukung produk AI milik pemerintah federal disebut sebagai “alat strategis jangka panjang yang vital untuk mempertahankan keunggulan teknologi kita melawan musuh,” tulis Stanley dalam dokumen tersebut.
Add
as a preferred
source on Google
Kongres AS Usul Pembuatan Regulasi Penggunaan AI
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Kita Kuta, Perayaan 36 Tahun Menjaga Warisan Pariwisata Bali
Baca lagi: Prabowo Terima Kunjungan Menlu Qatar di Istana, Ini yang Dibahas
Baca lagi: 3 Tanker Minyak Iran Bebas dari Blokade AS di Selat Hormuz


