
Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia
—
Para
peneliti
di University of California, Irvine (UCI) mengembangkan alat
medis
implan berbentuk seperti ‘stop kontak’ yang ditanam di bawah kulit. Alat ini nantinya bisa dipakai untuk mengecas ulang perangkat medis yang tertanam di tubuh, tanpa perlu operasi.
Alat bernama Implantable Bioelectronic Outlet (IBO) itu nantinya akan tersembunyi di dalam kulit dan hanya dapat diakses menggunakan jarum suntik khusus saat dibutuhkan, baik untuk pengecasan, perawatan, atau mengambil data medis.
Riset soal IBO ini dipimpin oleh Dion Khodagholy, associate professor teknik elektro dan ilmu komputer di UC Irvine. Hasil uji coba pada hewan juga sudah dipublikasikan di jurnal ilmiah Science Advances awal Juli ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“IBO mampu memberikan rangsangan secara sangat efektif, seolah-olah Anda menyambungkan kabel secara langsung,” kata Dion Khodagholy, ketua tim peneliti UC Irvine, melansir laman resmi UC Irvine, Rabu (8/7).
“Hal ini sangat menarik karena tidak hanya dapat digunakan untuk tujuan diagnostik, tetapi mungkin juga dapat mendukung terapi yang memerlukan dosis rangsangan tertentu setiap hari,” lanjut dia.
Perangkat ini dirancang sebagai titik akses universal yang kompatibel dengan berbagai sensor, stimulator, neural interface, maupun sistem bertenaga baterai yang umum digunakan di dunia medis.
Melansir
Tech Radar
, komponen utama alat ini merupakan spons plastik lembut dengan pori-pori berukuran sekitar 150 mikrometer, setara dengan diameter jarum halus.
Spons ini dilapisi polimer yang dapat menghantarkan listrik tinggi dan dibungkus dengan karet silikon sebagai pelindung sekaligus penyekat arus listrik. Beberapa lapisan spons konduktif itu kemudian disusun dan ditutup rapat agar aman di dalam tubuh.
Hyung Joon Shim, peneliti di bidang teknik elektro UC Irvine, mengatakan bahwa alat ini memang didesain agar tetap ‘tersembunyi’ di bawah kulit. Jarum hanya dimasukkan ketika diperlukan akses listrik dan segera dicabut setelahnya.
Diuji ke hewan
Dalam pengujian pada hewan seperti mencit dan tikus, ‘stop kontak’ implan ini dihubungkan dengan neural interface untuk mengisi daya baterai sekaligus mentransfer data hingga kecepatan maksimal 16 Mbps.
Sementara, pada pengujian terpisah pada babi, perangkat ini berhasil menyalurkan impuls listrik sebesar 20 mikroamper secara stabil. Bahkan, struktur sponsnya terbukti sangat tangguh dan tidak retak meski sudah ditusuk jarum lebih dari 100 kali.
Pada percobaan pada mencit, perangkat ini mampu bertahan di dalam tubuh selama satu tahun tanpa mengalami penurunan fungsi maupun menimbulkan komplikasi.
Bagaimana dengan manusia?
Jennifer Gelinas, profesor pediatri dan neurobiologi di UC Irvine, mengatakan bahwa keamanan jangka panjang merupakan syarat paling krusial sebelum teknologi ini bisa diterapkan pada manusia.
Khodagholy menyebut bahan-bahan yang dipakai dalam IBO sudah lebih dulu mendapat persetujuan FDA untuk implan jangka panjang di tubuh manusia, sehingga ia memperkirakan proses menuju produk nyata tidak akan makan waktu lama.
Saat ini, tim risetnya tengah bekerja sama dengan Advanced Research Projects Agency for Health (ARPA-H) untuk mengaplikasikan IBO pada transplantasi mata, sekaligus mengajukan izin Investigational Device Exemption ke FDA agar alat ini bisa mulai diuji ke manusia.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Hit Club APK3]
Baca lagi: Warga Yunani Buka Suara soal The Odyssey Christopher Nolan
Baca lagi: FOTO: Melihat Pameran Jakarta Provoke! 2026
Baca lagi: Fakta-fakta Demo Besar Gen Z Partai Kecoak di India