
Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia
—
Badan Riset dan Inovasi Nasional (
BRIN
) menyebut kebakaran tempat pemrosesan akhir (TPA)
Jatiwaringin
bukan fenomena yang terjadi secara tiba-tiba. Saat musim kemarau, potensi kebakaran meningkat, apalagi di TPA yang masih menerapkan sistem open dumping.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wahyu Purwanta menilai kebakaran TPA merupakan kejadian yang hampir selalu berulang setiap musim kemarau.
“Kebakaran TPA ini sesuatu yang berulang terjadi di musim kemarau. Bahkan sekarang musim kemarau belum terlalu panjang. Kalau kemaraunya berkepanjangan, risikonya tentu akan lebih besar,” kata Wahyu dalam diskusi Media Lounge Discussion di Kantor BRIN, Jakarta, Kamis (9/7), melansir
Detik
.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, secara ilmiah kebakaran hanya dapat terjadi apabila tiga unsur terpenuhi, yakni bahan bakar, oksigen, dan sumber penyalaan.
Di TPA, dua unsur pertama tersedia dalam jumlah melimpah. Bahan bakarnya berasal dari sampah kering maupun gas metana hasil pembusukan, sementara oksigen tersedia dari udara bebas.
“Karena itu yang harus dicegah adalah sumber penyalaannya,” jelas Wahyu.
Menurut Wahyu, sumber penyalaan dapat berasal dari berbagai hal, mulai dari aktivitas pembakaran di sekitar TPA hingga puntung rokok yang dibuang sembarang. Oleh karena itu, selama musim kemarau pemerintah daerah perlu meningkatkan pengawasan terhadap TPA.
“Kasarnya begini, saat musim kemarau, TPA yang masih open dumping harus benar-benar dijaga. Semua potensi sumber penyalaan harus dicegah semaksimal mungkin,” ujar dia.
Menurut dia, pencegahan kebakaran tak cukup dilakukan di area TPA. Pengelola sampah sejak dari sumbernya juga perlu dibenahi.
Idealnya, sampah yang masuk TPA hanya residu yang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali dan tidak mudah terbakar.
“Semakin yang masuk ke TPA itu hanya residu yang tidak mudah terbakar, maka risiko kebakaran juga akan semakin kecil. Artinya sistem pengelolaan sampah di hulunya juga harus dibenahi,” jelasnya.
Pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy juga tetap perlu dibarengi dengan pemilahan sampah sejak awal. Menurutnya, dengan demikian, sampah yang telah dipilah akan lebih mudah diolah sekaligus mengurangi beban TPA.
Di sisi lain, teknologi untuk mencegah kebakaran di fasilitas akhir juga perlu dikembangkan, antara lain pemantauan temperatur, kamera dan drone termal, sensor gas, pengelolaan gas landfill, serta sistem peringatan dini berbasis kombinasi data timbunan dan cuaca.
Tidak hanya itu, setiap TPA juga perlu mengenali risiko kebakaran sejak awal lewat perbaikan operasi, pemantauan kondisi timbunan, pengelolaan gas, deteksi hotspot, pengawasan sumber api, serta kesiapsiagaan yang ditingkatkan pada musim kemarau. Pemerintah daerah juga didorong memiliki rencana yang jelas untuk mengurangi jumlah sampah yang harus berakhir di TPA.
“Dalam jangka panjang, arah kebijakan perlu memastikan semakin sedikit sampah campuran yang masuk ke fasilitas akhir. Pengurangan, pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan fraksi yang masih memiliki nilai harus diperkuat, sehingga fasilitas akhir pada akhirnya lebih banyak menerima residu dan dioperasikan secara lebih terkontrol,” pungkasnya.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Hit Club APK3]
Baca lagi: Respons Kubu Atalia soal RK Gugat Hak Asuh Arkana
Baca lagi: FOTO: Chef Prancis Bikin Kue Pengantin Bak Haute Couture
Baca lagi: Kendaraan Mati Pajak Tak Bisa Beli BBM di Jatim Hoaks