
Singapura, Hit Club APK3 Indonesia
—
Asia Pasifik berada pada titik penting dalam pengembangan kecerdasan buatan atau AI. Kawasan ini disebut memiliki peluang besar untuk bergerak lebih cepat, seiring perusahaan mulai membawa AI keluar dari fungsi-fungsi dasar menuju penggunaan yang lebih luas dalam operasi bisnis.
Perubahan itu menuntut lebih dari sekadar penambahan teknologi baru. Perusahaan perlu menata ulang cara kerja, pengambilan keputusan, serta infrastruktur yang menopang penggunaan AI dalam skala besar.
Senior Vice President and Chair IBM Europe, Middle East, Africa and APAC Ana Paula Assis mengatakan banyak perusahaan belum memasuki fase penerapan AI berskala besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sebagian besar organisasi masih berada pada fase bola lampu, menggunakan AI untuk membuat dokumen, merangkum rapat, dan mengotomatisasi tugas-tugas individual. Penggunaan itu bernilai, tetapi masih terbatas,” kata Ana dalam IBM Think 2026 di Singapura, Selasa (21/7).
“Ini tentu bukan sekadar persoalan teknologi. Namun persoalan operasional. Dan hal itu membutuhkan model operasional AI yang benar-benar baru,” imbuhnya.
Di Asia Pasifik, tantangan memperluas penggunaan AI memiliki dimensi tersendiri.
General Manager IBM Asia Pacific Hans Dekkers menilai karakter kompleks Asia Pasifik justru dapat menjadi keunggulan kawasan.
“Dengan menjadikan kompleksitas tersebut sebagai keunggulan strategis dan membangun AI yang sejak awal dirancang sesuai kebutuhan kedaulatan, berbagai organisasi di kawasan ini menjadi tolok ukur global dalam tata kelola dan penerapan AI tepercaya secara luas,” kata Dekkers.
Studi IBM mencatat 79 persen eksekutif dunia memperkirakan AI akan memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan perusahaan pada 2030. Sekitar 80 persen juga meningkatkan investasi pada AI agentik, yakni sistem yang mampu menjalankan serangkaian tugas dan mengambil tindakan dengan tingkat kemandirian tertentu.
Belanja perusahaan untuk agen AI diperkirakan hampir tiga kali lipat pada 2027. Namun, ekspansi itu juga membawa persoalan baru terkait kendali atas agen AI, data yang digunakan, lokasi penyimpanan informasi, serta tanggung jawab ketika sistem menghasilkan keputusan yang keliru.
Sebanyak 68 persen eksekutif bahkan menyebut lokasi penyimpanan dan kedaulatan data sebagai tantangan. Bagi negara-negara Asia Pasifik, isu ini semakin penting karena data perusahaan dapat berada di bawah yurisdiksi hukum yang berbeda dari lokasi operasionalnya.
Dekkers menyebut keberhasilan perusahaan pada 2030 bergantung pada kemampuan membangun fondasi AI yang kuat.
Fondasinya mencakup data yang siap digunakan, AI yang dapat dipercaya, serta infrastruktur digital terbuka dan hybrid yang tetap memberi organisasi kemandirian operasional.
IBM turut memperkenalkan sejumlah teknologi untuk mengelola perubahan tersebut.
Penerapannya juga mulai merambah sektor dengan risiko tinggi. Changi General Hospital, misalnya, memadukan AI, mixed reality, dan keahlian klinis untuk melatih tenaga kesehatan menghadapi insiden korban massal anak. Sistem tersebut digunakan untuk menganalisis skenario, memantau kinerja tim, dan menghasilkan evaluasi yang lebih objektif.
Di sektor pertahanan, institusi Singapura juga mulai mengeksplorasi komputasi kuantum untuk persoalan perencanaan misi yang kompleks, meski teknologinya belum matang untuk penggunaan luas.
Keunggulan Asia Pasifik akan bergantung pada kemampuannya mengubah kompleksitas menjadi sistem AI yang dapat dipercaya, dikendalikan, dan diterapkan dalam skala besar.
(ron/sur)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Hit Club APK3]
Baca lagi: Veda Ega Incar Tuah Sirkuit Asia di Sisa Musim Moto3 2026
Baca lagi: Polemik Rumah, Kubu Ruben Jawab Tudingan Sengaja Ungkit Ayah Sarwendah
Baca lagi: Mendag Meksiko Soal Pasar Mobil China Naik Drastis: Data Menyesatkan