
Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia
—
Sejumlah perusahaan pengembang
kecerdasan buatan
(AI) memusnahkan jutaan
buku
, yang mereka beli secara bekas. Tren ini pun makin marak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan AI.
Salah satu yang melakukan hal ini adalah Anthropic, perusahaan pembuat Claude. Sebuah dokumen terbaru menunjukkan bahwa perusahaan sangat menyadari betapa buruknya citra mereka jika tindakan ini sampai tercium publik.
Inisiatif rahasia bertajuk Project Panama ini terungkap pada pertengahan tahun lalu lewat gugatan hukum yang diajukan oleh sekelompok penulis terhadap Anthropic. Kasus ini akhirnya disepakati untuk diselesaikan secara damai dengan nilai ganti rugi sebesar US$1,5 miliar pada Agustus tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir
Futurism
pada Januari lalu, dokumen-dokumen tersebut mengungkap bagaimana jajaran pimpinan Anthropic menganggap buku sebagai elemen yang sangat penting untuk melatih model AI mereka. Salah satu pendiri bahkan menyatakan bahwa buku akan mengajari AI cara menulis dengan baik, bukannya meniru gaya bahasa internet berkualitas rendah.
Membeli, memindai, lalu menghancurkan jutaan buku bekas menjadi salah satu cara mewujudkannya. Metode ini dinilai murah dan dianggap sah secara hukum.
Praktik ini memanfaatkan celah hukum yang disebut sebagai doktrin penjualan pertama, yang mengizinkan pembeli memperlakukan barang belian mereka secara bebas tanpa campur tangan pemegang hak cipta.
Dengan mengubah format dari kertas ke digital, seorang hakim menilai tindakan tersebut dianggap sebagai transformati. Perusahaan dinilai tidak mencetak ulang atau mendistribusikan kembali buku fisik.
Hal ini dinilai cukup untuk dikategorikan sebagai penggunaan yang adil, dan secara keseluruhan, pemusnahan buku tersebut membuat Anthropic terhindar dari kewajiban membayar royalti kepada para penulis.
Perusahaan menggunakan mesin pemotong bertenaga hidraulik untuk memotong jutaan buku bekas dari pengecer secara rapi, lalu memindai halaman-halamannya menggunakan pemindai tingkat produksi berkecepatan tinggi. Setelah itu, perusahaan daur ulang akan dijadwalkan untuk mengambil sisa-sisa buku yang telah hancur, agar tidak terkesan membuang-buang limbah.
Anthropic sebetulnya cemas akan dampak dari praktik destruktif ini terhadap citra mereka, yang bisa menjadi simbol nyata dari pandangan publik bahwa teknologi AI sedang merusak dunia seni.
“Kami tidak ingin ada yang tahu bahwa kami sedang mengerjakan proyek ini,” bunyi dokumen perencanaan internal dari tahun 2024 yang baru dibuka, seperti dikutip oleh The Washington Post.
Sebelum beralih ke buku fisik, Anthropic awalnya mengandalkan buku digital. Pada tahun 2021, salah satu pendiri Anthropic, Ben Mann, mengunduh jutaan buku dari LibGen, sebuah situs perpustakaan bayangan yang menyediakan teks bajakan secara gratis.
Perusahaan membantah menggunakan buku-buku bajakan tersebut untuk melatih model komersial mereka. Namun, meskipun tindakan menghancurkan buku bekas dinyatakan sah secara hukum, penggunaan buku bajakan merupakan tindakan ilegal, yang akhirnya berujung pada kesepakatan ganti rugi senilai US$1,5 miliar.
Anthropic bukan satu-satunya perusahaan yang merusak fisik buku demi data. Dalam gugatan penulis lainnya, dokumen terungkap menunjukkan bagaimana Meta milik Mark Zuckerberg juga mengambil jutaan buku dari perpustakaan bayangan seperti LibGen.
Makin meluas
Melansir
Futurism
, praktik tersebut makin marak hingga penjual buku berskala besar ikut mengambil keuntungan dari lonjakan tren AI. Salah satu platform bernama ISBNdb, yang mengklaim memiliki basis data buku terbesar di dunia, menyebutkan bahwa data pelatihan AI terbaik saat ini sebenarnya tersimpan di rak-rak buku.
Teks fisik dianggap steril dari paparan tulisan hasil AI berkualitas rendah yang sudah banyak mencemari internet.
ISBNdb menjelaskan di situs webnya bahwa buku cetak terbitan sebelum era LLM dijamin bersih dari kontaminasi tulisan AI modern, dan hal itu menjadi keunggulan yang sangat signifikan.
Platform yang dulunya berfokus membantu perpustakaan, distributor, dan toko buku ini sekarang justru memfasilitasi perusahaan AI untuk membeli buku secara borongan, mulai dari ribuan hingga satu juta eksemplar per pesanan.
Sebagai nilai tambah, ISBNdb juga berjanji menjaga kerahasiaan transaksi perusahaan AI tersebut agar tidak menjadi sorotan publik. Pihak ISBNdb menyadari bahwa narasi media seperti “Perusahaan AI Memusnahkan Jutaan Buku” tentu akan memicu kecaman publik.
(dmi)
[Gambas:Video Hit Club APK3]
Baca lagi: FOTO: Penampakan Terbaru Mars dari Mata Rover Curiosity NASA
Baca lagi: FOTO: Kisah Pilu Orfeus dan Euridice Buka SIPFest 2026 di Salihara
Baca lagi: Dea Annisa Menikah dengan Mazaki Ahmad, Maharnya Ikuti Angka Ultah


