Daftar Isi
Dampak kemanusiaan
Ancaman ketahanan pangan
Potensi pengungsian akibat kekeringan
Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia
—
Sejumlah pakar iklim memprediksi fenomena
El Nino
tahun 2026 bakal menjadi salah satu yang terkuat sepanjang sejarah. Lantas, apa dampaknya?
Copernicus Climate Change Service, penyedia data dan informasi iklim global dari Uni Eropa, memprakirakan bahwa kemunculan El Nino pada tahun ini hampir dipastikan bakal terjadi. Bahkan, fenomena ini berpeluang besar menjadi sangat kuat, hingga dijuluki Super El Nino.
Super El Nino adalah kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat lebih dari 2°C di atas rata-rata. Kenaikan ini akan mengubah pola atmosfer secara signifikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan terbaru dari Joint Research Centre (JRC) Komisi Eropa memetakan berbagai skenario perkembangan El Nino beserta dampaknya terhadap iklim global, harga pangan, populasi terdampak, risiko pengungsian, hingga krisis kemanusiaan.
Mengutip laman resmi Komisi Eropa pada Kamis (30/7), laporan ini menyoroti bahwa El Nino tahun ini, dampaknya terhadap iklim akan terasa sepanjang 2026 hingga 2027 di banyak wilayah.
Dalam semua skenario, gelombang panas ekstrem akan mulai meningkat di wilayah tropis dan subtropis mulai bulan September. Puncaknya akan terjadi antara Desember 2026 dan Februari 2027, dan akan berlanjut hingga musim semi 2027.
Udara hangat yang tidak biasa juga akan meluas ke berbagai belahan dunia dan semakin menyengat seiring menguatnya intensitas El Nino. Wilayah yang paling terdampak meliputi Amerika Utara, Amerika Selatan, Amerika Tengah, Afrika, benua Euro-Asia, hingga Australia.
Berikut adalah dampak horor lainnya Super El Nino:
Dampak kemanusiaan
Menurut JRC, dampak El Nino dapat memperburuk krisis, konflik, dan kerentanan yang sudah ada. Dalam laporannya, JRC menggunakan instrumen INFORM Warning untuk menilai potensi timbulnya krisis kemanusiaan baru.
Tools ini menggabungkan perkiraan bahaya iklim dengan data konflik, ketahanan pangan, angka pengungsian, hingga kondisi ekonomi suatu negara.
Hasilnya, INFORM Warning menunjukkan indikasi krisis kemanusiaan tingkat tinggi dalam enam bulan ke depan di banyak negara Afrika Tengah. Sudan, Somalia, Sudan Selatan, dan Chad masuk status peringatan tertinggi secara global, karena negara-negara ini sebelumnya sudah bergelut dengan konflik aktif, pengungsian massal, dan krisis kekeringan parah.
Sementara itu, Ekuador, Venezuela, dan Haiti menjadi negara yang diprediksi bakal mengalami kekeringan parah dan ditambah dengan krisis internal yang sudah ada, sehingga memperburuk kondisi kemanusiaan di sana.
Ancaman ketahanan pangan
El Nino akan mengubah peta dan kondisi pertanian global secara signifikan. Penurunan produktivitas tanaman diperkirakan terjadi di berbagai wilayah penting seperti Afrika Sub-Sahara, India, China, Australia, dan Brasil.
Fenomena ini diprediksi akan mendorong pergerakan harga pangan dunia ke arah yang berebda-beda.
Misalnya, harga gandum durum diperkirakan melonjak tajam seiring menguatnya El Nino. Harga jagung global juga berpotensi naik, meski responsnya masih belum pasti.
Sebaliknya, harga kedelai dan gandum merah diperkirakan bakal turun di semua skenario El Nino. Sementara itu, beras menunjukkan pola yang lebih dinamis, di mana harganya cenderung sedikit turun di awal tapi akan merangkak naik belakangan.
Potensi pengungsian akibat kekeringan
Menurut JRC, memprediksi sejauh mana El Nino memicu gelombang pengungsi masih jadi tantangan, karena dampak dari setiap peristiwa historis sangat bergantung pada bahaya utama di masing-masing negara.
Data mengenai pengungsian akibat kekeringan masih sangat terbatas. Hal yang sama juga berlaku bagi informasi mengenai warga yang terisolasi dan tidak bisa berpindah tempat, yang menjadi salah satu risiko paling tak kasat mata pada fenomena El Nino tahun 2026 ini.
Laporan tersebut menegaskan bahwa El Nino tahun ini akan memperberat beban pengungsian, konflik, dan krisis pangan yang sudah ada. Kondisi ini meningkatkan risiko timbulnya pengungsian susulan bagi kelompok rentan, terutama di Afrika Timur, Afrika Tengah, Amerika Tengah, serta sebagian wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.
(dmi)
Baca lagi: 20 Pemain Muda Ethiopia Kabur di Swedia, Tak Mau Pulang Kampung
Baca lagi: Legislator Golkar soal RUU Perampasan Aset: Jangan Ada Abuse of Power
Baca lagi: Deretan Selebritas Punya Koleksi Mobil Suzuki di Garasinya



One Response
Setuju banget sama poin penjelasannya, emang kenyataannya di lapangan sering kayak gitu. Makasih udah mau ngangkat bahasan yang menarik begini, gan. Izin ninggalin jejak di kolom komentar sekalian berbagi info seputar event seru dari untung88 login ya.