
Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia
—
Sebuah
fosil
yang disimpan di dalam laci koleksi selama puluhan tahun ternyata diidentifikasi sebagai bagian kerangka
dinosaurus
pertama yang pernah ditemukan di Antartika.
Fosil tulang belakang (vertebra) ini awalnya ditemukan pada tahun 1985 oleh tim ekspedisi British Antarctic Survey (BAS). Saat pertama kali ditemukan, fosil ini hanya diidentifikasi sebagai milik reptil besar biasa.
Setelah puluhan tahun tersimpan di gudang, fosil ini akhirnya menarik perhatian Mark Evans, ahli paleontologi sekaligus manajer koleksi geologi di BAS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Bentuknya terlihat tidak biasa, jadi saya hanya perlu memastikan apakah dugaan saya benar,” kata Evans, melansir
Hit Club APK3
, Selasa (30/6).
Fosil itu ternyata milik seekor Titanosaurus, kelompok dinosaurus herbivora berleher panjang pemakan tumbuhan (sauropoda), yang mencakup hewan-hewan raksasa yang pernah hidup di Bumi.
Menurut Natural History Museum, bobot rata-rata kelompok dinosaurus ini bisa mencapai 15 metrik ton. Bahkan, spesimen terbesar yang pernah diketahui diperkirakan memiliki panjang sekitar 37 meter dengan berat mencaai 63,5 metrik ton.
Fosil tulang belakang yang selama ini tersimpan di laci koleksi berasal dari dinosaurus remaja atau dewasa berukuran kecil. Menurut pernyataan resmi museum, tulang dengan diameter sekitar 10 sentimer, panjang tubuh hewan ini diperkirakan hanya sekitar 6 hingga 7 meter.
“Tulang ini tersimpan di laci koleksi selama puluhan tahun sampai penelitian baru mengungkap jati diri aslinyaL sebuah bukti langka bahwa dinosaurus sauropoda berleher panjang dulunya pernah hidup di Antartika,” kata Matthew C. Lamanna, salah satu penulis penelitian sekaligus kurator paleontologi vertebrata di Carnegie Museum of Natural History.
Sejarah penting
Paul Barrett, peneliti utama Natural History Museum, mengatakan bahwa sekilas fosil ini tampak biasa saja, namun ternyata ia memiliki tempat yang sangat penting dalam sejarah penjelajahan Antartika sebagai fosil dinosaurus pertama yang ditemukan di benua tersebut.
Dinosaurus pemilik tulang ini hidup sekitar 82 juta tahun yang lalu, pada periode Kapur Akhir (Late Cretaceous).
“Pada masa itu, kita tahu bahwa Antartika ditutupi oleh hutan beriklim sedang yang subur, menyediakan makanan yang melimpah bagi herbivora besar,” jelas Barrett.
Lapisan es yang menyelimuti sebagian besar benua Antartika membuat catatan fosil di sana sangat minim. Namun, Barrett menyebut kondisi ini bisa saja berubah di masa depan.
“Kemungkinan masih banyak dinosaurus lain yang belum ditemukan di benua ini. Seiring mencairnya lapisan es akibat perubahan iklim, kita mungkin akan menemukan lebih banyak bukti tentang keanekaragaman hayati di masa lalu,” tutur dia.
Penelitian ini juga membuka pemahaman baru tentang bagaimana dinosaurus bermigrasi di antara benua-benua belahan Bumi selatan. Selama periode Kapur tempat hewan ini hidup, Antartika merupakan bagian dari superbenua Gondwana.
Penemuan baru ini menunjukkan bahwa kerabat dekat dinosaurus ini bermigrasi antara Amerika Selatan dan Australia melalui Antartika.
Roy Smith, dosen paleontologi vertebrata di University of Portsmouth yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa penemuan tersebut menjadi pengingat tentang betapa pentingnya merawat koleksi ilmiah museum.
“Sebagai fosil dinosaurus pertama yang ditemukan di Antartika, ini menjadi bukti krusial untuk memahami bagaimana dinosaurus menyebar di benua-benua selatan, sekaligus membuktikan bahwa hewan luar biasa ini dulunya mendiami setiap jengkal benua di Bumi,” jelas Smith.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Hit Club APK3]
Baca lagi: Argentina vs Cape Verde: Panggung Miami dan Dansa Senja Lionel Messi
Baca lagi: 5 Rekomendasi Film Akhir Pekan, Minions and Monsters dan ALPHA
Baca lagi: Ini 20 Brand yang Bagi Freebies di JXB 2026, Ada Serum Hingga Vitamin




22 Responses
Sebuah sintesis yang luar biasa antara teori yang kokoh dan realitas yang terjadi di lapangan https://www.kufirst.center.ku.ac.th/category/activities/page/11/ gudang nya ilmu baru
Keren ulasannya, daging semua! Pas banget nih, barusan gw juga baca materi yang sepemahaman di http://fatcow.com/blog/?p=1127 lumayan buat bahan bacaan ekstra.
Keren ulasannya, daging semua! Pas banget nih, barusan gw juga baca materi yang sepemahaman di http://www.iies.unam.mx/laboratorios/ecologia-manejo-bosques-tropicales/the_importance_of_biodiversity/ lumayan buat bahan bacaan ekstra.
Terima kasih atas standar kualitas luar biasa ini. Anda telah menaikkan kelas pembaca hari ini https://www.kufirst.center.ku.ac.th/%E0%B9%81%E0%B8%88%E0%B9%89%E0%B8%87%E0%B9%80%E0%B8%A5%E0%B8%B7%E0%B9%88%E0%B8%AD%E0%B8%99pchf6/
Artikel ini menjawab beberapa pertanyaan yang saya miliki. Untuk tambahan informasi, saya juga membaca di https://wakelet.com/wake/IZ2iiPuejOyPNzjtgDCMB.
Tulisan yang mengedukasi dan membuka perspektif baru bagi pembacanya. Bila berkenan, kunjungi pula https://akhmadiinkhotkhon-1.ub.gov.mn/?p=532 yang mengulas diskursus terkait dengan cukup tajam.
Data atau statistik yang dicantumkan membuat argumen penulis semakin solid.http://www.kufirst.center.ku.ac.th/8775-2/
Sebuah bacaan yang sangat interaktif dan memberikan pengalaman baru dalam menyerap informasi http://www.kufirst.center.ku.ac.th/frontier-in-food-2023-1/
Saya merasa sangat beruntung bisa menemukan dan membaca artikel seberharga ini secara gratis
Kreatif banget cara penulis menyampaikan ilmunya! Bikin pembaca betah dan langsung paham http://www.kufirst.center.ku.ac.th/innolab-forum-food-for-the-future-elderly-food/ termakasih
Penjelasan di sini gampang banget dicerna dan to the point. Kalau ada yang mau cari sudut pandang tambahan seputar tema ini, coba deh mampir ke http://akhmadiinkhotkhon-1.ub.gov.mn/?p=2003 juga.
Penulisan artikelnya sangat runut sehingga mudah dipahami. Saya juga ingin berbagi tautan https://akhmadiinkhotkhon-1.ub.gov.mn/?p=590 di sana ada tulisan serupa yang bisa dijadikan rujukan tambahan.
Terima kasih atas penjelasannya, ulasan ini sangat membantu mencerahkan. Sebagai tambahan referensi, saya juga sempat membaca artikel senada yang lumayan mendalam di http://fatcow.com/blog/?p=384 tadi.
Sangat mencerahkan dan mudah dipahami alurnya. Sebagai pelengkap materi, tautan http://fatcow.com/blog/?p=1736 ini juga punya informasi yang sejalan dan patut buat dibaca.
Alur argumentasinya sangat kokoh, tidak menyisakan ruang bagi spekulasi atau asumsi yang tak berdasar http://www.kufirst.center.ku.ac.th/ku-first-webinar-1-food-safety-series-7-2/ jarang saya menemukan artikel sebagus ini
Narasi ini dibangun di atas fondasi riset yang sangat sehat, memberikan jaminan kredibilitas bagi pembacanya https://www.kufirst.center.ku.ac.th/pchf4/ terimakasih ya
Ini adalah representasi sempurna dari sebuah karya tulis yang memiliki integritas ilmiah tinggi https://www.kufirst.center.ku.ac.th/live-%E0%B8%97%E0%B8%9A%E0%B8%97%E0%B8%A7%E0%B8%99%E0%B8%81%E0%B8%8E%E0%B8%AB%E0%B8%A1%E0%B8%B2%E0%B8%A2-fsma-%E0%B9%80%E0%B8%8A%E0%B8%B7%E0%B9%88%E0%B8%AD%E0%B8%A1%E0%B9%82%E0%B8%A2%E0%B8%87/ nambah ilmu dengan mudah di artikel ini
Penulis menyajikan instrumen taktis yang sangat dibutuhkan oleh para praktisi di industri saat ini https://www.lib.cet.ac.il/pages/subx.asp?item=8312&rel=1
Setuju sama opini penulisnya, apalagi di bagian kesimpulan. Saya sempet baca referensi pendukungnya juga kemaren di https://hammer.x0.to/cgi/support/support_bbs.cgi?mode=past&log=3031&page=60&bl=0&list=topic nyambung banget.
Artikel ini memberikan edukasi yang luar biasa untuk pembaca.https://eridan.websrvcs.com/System/Media/play.asp?id=54542&key=45565101-0FF5-43D7-B17E-A72EAC7397CC
Saya jadi lebih paham setelah membaca artikel ini. Kebetulan saya juga menemukan https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=455547 yang membahas topik serupa dengan cukup lengkap.
Tulisan ini memberikan kepuasan substansial bagi mereka yang mengutamakan orisinalitas ide dan kekuatan bukti ilmiah https://www.oregonlive.com/hawks/2010/01/winterhawks_brad_ross_added_to.html