Tetangga RI ‘Terpanggang’ Heatwave, BMKG Ungkap Kondisi Indonesia

Jakarta, Hit Club APK3 Indonesia

Sejumlah kota di negara tetangga,

Malaysia

, telah masuk daftar wilayah terdampak

heatwave

atau

gelombang panas

. Bagaimana dengan Indonesia?

Laporan yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) menyebut Kuala Lumpur telah masuk dalam kategori Level 1 pada daftar wilayah yang terkena dampak gelombang panas yang sedang berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Level 1 berarti suhu di wilayah-wilayah tersebut berkisar antara 35 derajat Celcius hingga 37 derajat Celsius selama setidaknya tiga hari berturut-turut.

Selain Kuala Lumpur, lokasi lain yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Selama, Kuala Kangsar, Kinta, dan Hulu Perak di Perak; Daerah Utara dan Timur-Laut di Penang; serta Sik, Padang Terap, Kubang Pasu, Pulau Langkawi, Kuala Muda, Kulim, dan Bandar Baharu di Kedah.

Sementara itu, tiga wilayah di Kedah dilaporkan berada dalam status peringatan gelombang panas lebih parah di Level 2. Level ini berarti suhu maksimum harian di wilayah-wilayah tersebut berada di atas 37 derajat Celcius dan mencapai 40 derajat Celsius selama setidaknya tiga hari berturut-turut.

Dikutip dari

Straitstimes

, laporan dari MetMalaysia pada Senin (23/3) mengungkap kondisi terasa sangat parah di Baling, Pendang, dan Pokok Sena di Kedah.

MetMalaysia membagi kategori

heatwave

menjadi tiga tingkat, yakni Level 1 atau peringatan, Level 2 atau gelombang panas, dan Level 3 yang berarti gelombang panas ekstrem, dengan suhu maksimum harian di atas 40 derajat Celsius selama setidaknya tiga hari berturut-turut.

Kondisi Indonesia

Beberapa waktu lalu, SCMP melaporkan potensi gelombang panas atau

heatwave

di negara-negara Kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mulai April mendatang.

Laporan tersebut mengutip prakiraan musiman terbaru Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) yang menyebut suhu di sebagian besar wilayah maritim dan daratan Asia Tenggara diperkirakan berada di atas rata-rata untuk periode Maret-April-Mei 2026.

ASMC memproyeksi untuk periode tiga bulan ke depan, ada kemungkinan 80 hingga 100 persen suhu di atas normal di seluruh Indonesia dan Malaysia. Gelombang panas tak biasa ini diperkirakan pertama kali melanda kedua negara itu, lalu meluas ke sebagian besar daratan Asia Tenggara dalam dua bulan berikutnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak menampik kondisi suhu di atas normal pada periode tersebut. Namun, di Indonesia, peningkatan suhu tersebut tidak serta merta bisa disebut

heatwave

.

“Yang disampaikan ASMC adalah outlook musim periode Maret – April – Mei: bagaimana karakter temperatur musim tersebut, dengan kondisi diatas normal,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan pada Jumat (13/3).

“Hal tersebut berbeda, bukan

heatwave

yang memiliki karakter waktu pendek hanya maksimal sekitar 2 minggu,” tambahnya.

Terbaru, Ardhasena menyebut cuaca panas di Tanah Air disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kondisi musiman gerak semu Matahari yang berada di dekat khatulistiwa sehingga radiasi ke wilayah Indonesia tinggi.

Kemudian, ada juga sisa lembap atmosfer dari musim hujan dikombinasikan dengan panas, sehingga membuat terasa lebih gerah.

“Sirkulasi atmosfer MJO fase subsiden, menekan pembentukan awan sehingga kita melihat langit tanpa awan di mayoritas wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah, dan panas terakumulasi selama beberapa hari,” katanya kepada

Hit Club APK3Indonesia.com

, Rabu (25/3).

Syarat

heatwave

Pada 2024, Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan syarat yang harus dipenuhi untuk wilayah mengalami gelombang panas adalah suhu rata-rata naik 5 derajat Celsius dan terjadi selama lima hari berturut-turut.

“Gelombang panas itu suhu maksimal harian lebih tinggi dari suhu maksimal rata-rata hingga 5 derajat Celsius, dan paling tidak muncul lima hari secara berturut-turut,” jelasnya yang kala itu menjabat Deputi Meteorologi BMKG.

Gelombang panas juga umumnya terjadi di wilayah yang terletak pada lintang menengah hingga lintang tinggi, di belahan Bumi bagian utara maupun di belahan Bumi bagian selatan.

Selain itu, fenomena ini juga terjadi pada wilayah geografis yang memiliki atau berdekatan dengan massa daratan dengan luasan yang besar, atau wilayah kontinental atau sub-kontinental.

(lom/dmi)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Hit Club APK3]

Baca lagi: Barry Keoghan Sempat Pikir Ulang Lanjut Jadi Aktor gegara Kena Hujat

Baca lagi: Drama Lee Byung-hun, The Koreans Mulai Digarap Sutradara The Glory

Baca lagi: Rencana Efisiensi, DPR Harap Anggaran Pendidikan Tak Ikut Dipangkas

Kamu mungkin juga menyukai: